Selasa, 13 November 2012

menentukan hari pernikahan

Menikah merupakan impian bagi setiap orang. Berbagai persiapan dilakukan untuk menyambut hari yang spesial ini. Tentu bagi beberapa pasangan yang masih meyakini tradisi lokal akan mencari hari yang baik untuk hari pernikahan. Namun tidak sedikit yang bingung untuk cara mencari hari pernikahan.

Untuk mencari hari pernikahan syarat utama yang harus diperhatikan adalah mengetahui hari dan pasaran. Dan juga jumlah neptu setelah tahu hari dan pasarannya. Jika anda belum tahu untuk perhitungan neptu hari, bulan dan tahun, bisa dibaca di postingan saya tentang neptu hari, bulan dan tahun jawa.

Jika sudah paham dan mengatahui hari serta jumlah neptu, maka sekarang kita mulai cara-cara menentukan hari pernikahan.

Sebenarnya caramenentukan hari pernikahan ini sangat sederhana, yaitu menggunakan rumus ; hari pernikahan menggunakan hari lahir mempelai laki-laki, sedangkan pasarannya menggunakan pasaran mempelai perempuan.

Jadi misalkan ;

Hari dan pasaran lahir mempelai laki-laki ; senin pon
Hari dan pasaran lahir mempelai perempuan ; rabu pahing
Maka hari untuk pernikahan adalah hari lahir mempelai laki-laki yaitu senin. Dan untuk pasarannya menggunakan pasaran mempelai perempuan yaitu pahing.

Jadi hari pernikahan jatuh pada hari senin pahing.
Namun tidak serta merta langsung ditentukan hari senin pahing, ada lagi aturan yang harus dihindari setelah hari ditentukan.

Berdasarkan contoh diatas misalkan hari sudah ditentukan senin pahing, maka yang harus dihindari adalah tanggal jawa saat jatuhnya hari yang sudah ditentukan.
Berikut adalah daftar tanggal yang harus dihindari ;

Suro ;  7, 17,27
Sapar ; 2, 12, 22
Mulud ; 3, 13, 23
Bakda mulud ; 5, 15, 25
Jumadil awal ; 6, 16, 26
Jumadil akhir ;1, 11, 21
Rejeb ; 2, 12, 22
Ruwah ; 4, 14, 24
Pasa ; 5, 15, 25
Sawal ; 7, 17, 27
Dulkaidah ; 1, 11, 21
Besar ; 3, 13, 23

Itu adalah tanggal yang harus dihindari, misalkan hari senin pahing sesuai contoh diatas pada tanggal dan bulan tersebut diatas maka sebaiknya dihindari.

Lalu selain itu hendaknya jangan melakukan pernikahan pada bulan suro. Lalu juga jangan melakukan pernikahan pada bulan dimana orang tua anda dulu melakukan pernikahan. Misalkan orang tua anda dulu menikah pada bulan febuary, maka hindari juga bulan tersebut.

Perhitungan menentukan hari pernikahan ini berdasarkan kurup neptu, yang sering dilakukan oleh orang Solo bagian utara. Tentu masih banyak cara-cara lain untuk menentukan hari pernikahan.

Semoga bermanfaat....

cerita : Legenda Brebes

Legenda Brebes : “Jaka Poleng”


Ilustrasi By. Edi Siswoyo
Ilustrasi By. Edi Siswoyo
Gunung Slamet yang perkasa masih terlihat malu-malu membiru, diburu kelabu biru-biru kabut, dikejar kuning kemuning senja dibalik punggungnya. Rerumputan, kayu jati, bunga dan dedaunanya masih menggigil kedinginan, kaki-kakinya basah. Berembun. Tes… tes… tes menetes air yang semalam sampai sepertiganya masih berwujud asap-asap purba mengembara dari gunung kini menetes dari daun yang paling atas, jatuh kedaun yang paling bawah, dan tergelincirlah ia jatuh membenam ke tanah sesuai sunah-Nya.
Kesibukan sudah mulai sebelum alarm alamiah dari bengokan ayam jago yang menggaung sahut menyahut dari kaki gunung slamet hingga bibir pantai randusanga.
Kocap Kacarita, disebuah halaman belakang kabupaten Brebes Bi Ojah sedang sibuk menggaruk-garuk tanah dengan sapu lidinya, beberapa menit setelahnya sampah daun melinjo dan mangga kering terkumpul dan siap untuk dibakar.
Seorang pemuda gagah nampak berlari tersaruk-saruk oleh sarungnya masuk dari pintu belakang.
“Biiii…..” teriaknya sambil terus berlari menuju kandang kuda yang terletak sepuluh meter dipojok kanan halaman belakang kabupaten.
Ya, dialah laksito selepas sholat shubuh beginilah pekerjaanya merawat Kyai Genta kuda kesayangan Sinuwunya Gusti Kanjeng Bupati. Dia anak Pangon (Anak gembala bayaran : Ind) kesayangan Kanjeng Bupati, rapi pekerjaanya dan tekun ibadahnya. “Wah…. Ingin aku selalu melihat Laksito merawat Si Genta…” Kata-kata puas dan sanjung puji selalu Bupati berikan karena puas melihat hasil kerja Laksito.
Setelah, Kandang dan kudanya sudah selesai dibersihkan biasanya , Laksito menikmati seduhan teh poci dan kue alu-alu yang tiap hari disediakan Bi Ojah, barulah ia berangkat menuju persawahan untuk mencari rumput hijau makanan pokok untuk Kyai Genta kuda rawatanya.
“Bi… aku berangkat kesawah dulu yah…” Laksitho berpamitan dengan Bi Ojah sambil menyangkutkan dua keranjang bambu kosong wadah rumput kebahu sebelah kananya, sebuah sabit tanpa warangka (Sarung : Ind.), ia taruh disalah satu keranjang bambunya, dan hilanglah sosok Lakshito dibalik pintu gerbang pendopo kabupaten.
Ditelusurinya pematang sawah yang tanahnya masih lembab terkena embun, menuju kaki bukit wanasari yang rumputnya hijau dan lebat, setelah sampai Lakshito tanpa ragu menyabit semua rumput gajah yang tumbuh liar dikaki bukit, satu keranjang terisi penuh Lakshito pun merasa lelah.
“Glek…glek…glek….” Buah jakun Lakshito tampak naik turun mereguk air kendi yang ia bawa, dan selalu ia minum dibawah pohon besar rindang di kaki bukit wanasari.
***
Ilustrasi By. Edi Siswoyo
Ilustrasi By. Edi Siswoyo
Angin yang mengipis sangat sepoi, keringat Lakshito yang semula lantis bercucur perlahan berhenti, rasa lelah pun berganti rasa kantuk, saat mata Lakshito mulai sayup-menyayup hampir tenggelam dalam tidurnya, ia melihat Ula Poleng (Ular Belang : Ind) besar bermahkota emas dikepalanya melintas didepanya.
Lakshito, menggerus-gerus matanya beberapa kali, setelah yakin ia sedang tidak bermimpi Lakshito mengendap-endap dari belakang, mengikuti kemana ular ajaib bermahkota emas itu akan pergi.
Langkah kelok-keloknya berhenti disebuah semak rimbun, Lakshito hanya bisa melihat ekornya yang terus bergoyah-goyah kekanan kekiri sesekali memutar.
“Wah… kenapa yah… apa ini tafsir dari mimpiku semalam, aku bertemu Raja Ular yah…?” Laksito memalingkan mukanya dan bergumam sendiri, sambil jempolnya menyaruk janggutnya.
Setelah sekian waktu Laksito terbengong sampai tak sadar ular belang bermahkota emas itu pergi dan meninggalkan selaput kulit benang-benang berwarna putih berkilau-kilau, laksito memungut sisik tua ular belang itu dan menyimpanya dikantong lalu ia mulai lagi menyelesaikan pekerjaanya mengisi penuh keranjang bambu wadah rumputnya sampai penuh.
“Huuhh…selesai juga akhirnya ” ucap laksito sambil menyeka keringat yang mengucur didahinya dengan tanganya.
Laksito pulang dengan memikul dua keranjang penuh rumput, sesekali untuk mengusir sepi laksito berdendang lagu kesukaanya, “Gambang Suling” sambil nafasnya terengah-engah :
Gambang suliiiing…
Kumandang Swaranee…
Tulat…tulit Kepenak Uninee…
Unineemuu… Ngrenyuh ake baaa…
Lenrang kentrungkeeeen…
Tipung suling…
Siiiii’grak kendanganeee…
Sepanjang perjalan pulang hingga sampai ke pintu gerbang pendopo kabupaten Brebes Laksito merasakan ada hal aneh yang ia rasakan, setiap orang yang berpapasan denganya tak menjawab sapaannya.
Rumput sudah Laksito tempatkan disebuah gubug kecil tempat menyimpan pakan-pakan kuda.
Sambil berjalan menuju Bi Ojah yang Nampak sedang sibuk di dapur Laksito menyipas-ipaskan ikat kepalanya yang sudah terlepas kearah mukanya, sambil dahinya mengernyit-ngernyit tak tahan menadah sinar matahari yang jatuh dimukanya.
“Bii…. Masak apa? Lapar aku Bii…” Teriak Laksito sambil tanganya dengan cekatan menyambar mendoan tempe yang masih ditiriskan dari minyaknya.
Alih-alih menjawab pertanyaan Laksito Bi Ojah terperanjak sampai abu dari pawon (tungku : Ind) yang sedang Bi Ojah tiup-tiup dengan selongsong bambu menyembur buyar beterbangan tak karuan “Duh Gusti… Gusti… Siapa itu….” Teriak Bi Ojah sambil mengusap-usap mukanya yang kini berwarna putih penuh abu.
“Bi aku Sito Biii… aku disini bi disamping Bibi….” Sahut Laksito sambil merengkuh tangan Bi Ojah yang sedang menodongkan selongsong bambu entah maksudnya apa.
“Haaaahhh…. Kamu setan pasti…. Setan…setaaaannn…tolooongg Gustiii…” Bi Ojah berteriak-teriak sambil meronta-ronta mencoba melepaskan tanganya yang dipegang Laksito yang sudah kasat mata.
***
Mendengar suara gaduh dari belakang dapur Gusti Kanjeng Bupati berlari keluar ke belakang menuju dapur.
“Tenang Bi Ojah… ada apa ini… ada apa ini….” Sambut Gusti Bupati sambil menenangkan Bi Ojah yang terus berteriak-teriak dan meronta-ronta.
“A..aaa…aaa…ampun Gusti… tadi ada suara tapi tak ada wujudnya mengaku Laksito…itu Jin Gusti…Jin…” Tungkas Bi Ojah tergagap-gagap, sambil matanya berkedip-kedip tanpa irama.
“To…Laksito… Cah Baguss… Cah Assigit… Apa benar sejatinya kau memang Laksito…” Ucapanya tenang dan berwibawa.
“Iya Gusti ini hamba… Benar-benar hamba abdi kinasihmu Laksito…” Suara tanpa wujud itu menyahuti pertanyaan Gusti Bupati.
“Kenapa kamu bisa seperti ini Laksito… ada apa gerangan… Ceritakan Laksito?” Tanya Gusti Bupati seolah-olah sedang berhadapan dengan sosok Laksito yang kasat mata.
“Hamba sendiri bingung Gusti… hanya tadi saya mengambil sisik ular yang terlepas…” Papar Laksito yang kasat mata.
Bi Ojah, beberapa pelayan nampak celingukan kadang menatap keatas langit-langit dapur sambil mengusap kuduk-kuduknya, serba bingung dan takut mereka dibuatnya.
“Baik Laksito… dimana kamu simpan sisik ular itu…? Gusti Bupati melanjutkan interogasinya pada sosok Laksito yang kini seperti manusia dalam gambaran syair “Padamu Jua” Karya Raja Penyair Amir Hamzah : Dimana engkau…, Rupa tiada…, Suara sayup…, Hanya kata merangkai hati …
“Dikantong hamba Gusti….” Jawab Laksito.
“Baiklah sekarang coba kamu keluarkan sisik ular itu… Buang jauh dari badanmu…” Saran Gusti Bupati, sambil jari telunjuknya memberi aba-aba agar Laksito meletakanya diatas meja makan bundar yang ada di dapur.
Benarlah ketika sisik ular itu dikeluarkan dari kantong laksito, dan ia taruh di meja sosok Laksito pun dapat terlihat lagi. Bi Ojah berteriak kegirangan usai sudah rasa takutnya, kalau benar-benar Laksito sampai hilang dan menjadi manusia tanpa wujud, pastilah ia akan sangat berduka dan sedih.
“To…. Laksito… ya ampun Nang… ” Sambut Bi Ojah sambil menepuk-nepuk punggung Laksito.
***
Rasa senang dan bahagia Bi Ojah, Laksito dan beberapa abdi yang juga teman Laksito, hanya berlangsung sebentar, tragedi besar segera terjadi. Gusti Bupati yang melihat bahwa sisik ular yang dibawa Laksito tanpa sengaja itu bertuah, timbul hasrat Gusti Bupati untuk memilikinya.
“Ya Sudah to… sekarang aku yang simpan saja… sisik ular itu… ” Pinta Gusti Bupati sambil tanganya mengangsur kearah Laksito yang sedang tersimpuh di depan Gusti Bupati.
“Mohon maaf Gusti… hamba tidak dapat memberikanya… itu amanat besar dari Tuhan untuk saya… ” Jawab Laksito sambil memadukan kedua telapak tanganya, menyembah menundukan kepalanya.
“Hmmmm …nanti aku naikan jabatanmu jadi carik-ku (Sekretaris : Ind.)…” Rayu Gusti Bupati agar Laksito mau memberikan sisik ular itu.
“Mohon maaf… ini milik hamba karena hamba yang menemukan…, Gusti amanat ini tak bisa dinilai dengan harga dan jabatan, ini amanat dari Tuhan yang harus hamba jaga… Mohon maaf Gusti…” Laksito tetap keukeuh jumeukeuh dengan pendirianya bahwa amanat adalah harga mati yang harus dijaga dengan baik.
“Buat apa… tidak ada gunanya kamu memilikinyaaa… ” Hardik Gusti Bupati sambil langkahnya merangsek kedepan menuju meja tempat sisik ular itu tergeletak.
“Mohon maaf Gusti…. Hamba terpaksa melawan Gusti… ” Laksito bangun dari simpuhnya, serentak mereka kini saling bergelut saling mendorong, tubuh mereka beradu beberapa kali hampir tangan Gusti Bupati hampir menjangkau kulit itu, namun tenaga dan badan Laksito yang lebih besar tak cukup sebanding dengan badan ceking Gustinya, didorongnya Gusti Bupati hingga terjerembab terhempas beberap senti ambruk ke lantai. Secepat kilat tangan laksito mengambil sisik ular yang terseak-seok tertiup angin, dan dimasukanya benda itu kedalam mulutnya.
Bermaksud hanya untuk menyembunyikanya saja tapi, “Malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih” tanpa sengaja sisik ular itu tertelan.
***
Perlahan-lahan sedikit demi sedikit tubuh Laksito hilang raib.
“Maafkan hamba Gusti…. Maaf beribu maaf karena sudah berani melawan Gusti” Sebelum tubuh laksito benar-benar raib, nanar mata Laksito dan kata maafnya masih sempat jatuh dari bibirnya.
Dengan emosi yang masih bergulung didadanya, tertahan Gusti Bupati terbangun, sambil membenarkan letak ikat kepalanya yang sudah acak-acakan, tak kuasa menahan rasa amarah, kecewa, dan penyesalan yang kini mengecamuk didalam batinya.
Nafas Bupati masih terengah-engah sementara tangis Bi Ojah pecah mengiringi sosok Laksito yang kini raib ditelinga bumi musnah menjadi udara, Laksito pemuda yang sudah dianggap Bi Ojah seperti anaknya sendiri, rasa kehilangan yang teramat sangat Bi ojah rasakan.
“Toooo… Laksitooo…Aduuhh… aduuhh… ” Bi Ojah memanggil-manggil nama Laksito air matanya jatuh dilantai tanah lembab,di dapur.
Sementara Gusti bupati melangkah gontai perlahan, air matanya terbendung diantara kelopak matanya, nanar, berkaca-kaca tangan kananya memagang pinggangnya sementara tangan kirinya meregang dan menjulur kedepan.
“Tooo… Bocah Bagus… Maafkan Gustimu ini yang khilaf, gelap mata. Gelap hati oleh nafsu dan hasrat, sisik itu memanglah menjadi hakmu bukan hak-ku…” airmatanya kini menetes, lalu menyambung kata-katanya lagi. “Menyesal aku to… Menyesal… coba kalau aku tidak memaksa…pasti tak akan seperti ini kejadianya… kamu masih disini bersama kami….”
“Hamba memaafkanmu gusti…. Mungkin ini sudah menjadi nasibku… Tapi izinkanlah hamba terus mengabdi disini selamanya Gusti… ” jawab Laksito suaranya bergetar berat dan melirih.
“Baiklah… Laksito wujudmu sekarang sudah tidak ada, permintaan dan perintahku jika kamu ingin mengabdi selamanya disini tolonglah jaga rakyatku yaitu rakyat Brebes… dan karena kamu masih perjaka dan menelan sisik ula poleng (Ular Belang : Ind.) maka namamu aku ganti menjadi Jaka Poleng…”
Begitulah, konon Ula Poleng bermahkota emas itu salah satu abdi Hyang Anantaboga Dewa dari bangsa ular yang turun ke bumi, siapapun yang sudah terjamas untuk melihat proses pergantian kulitnya akan mendapatkan berkah dari sisiknya yang bertuah, konon sisik itu merupakan jembatan penghubung dua dunia yaitu dunia gaib dan dunia nyata, jadi siapapun pemilik sisik itu secara langsung bisa hidup dalam dua dunia, salah satu kelebihan lainya ialah pemilik sisik tersebut secara langsung memiliki ajian upasanta yaitu lidahnya berbisa jadi makhluk hidup apapun yang dijilatnya bisa menemui ajal, serta mampu berjalan diatas sungai dan samudera.
Sampai saat ini masyarakat Brebes beranggapan Ki Jaka Poleng masih hidup, beberapa orang yang pernah melihat penampaka Ki Jaka Poleng dalam wujud satria gagah berwajah manusia berbadan ular, mitos masyarakat di pesisir Kali Pemali berkembang bahwa sebelum banjir datang Ular Jaka Poleng membendung hulu sungai pemali kala sore sebelum banjir datang, agar sapi yang digembalakan dihutan dan orang-orang yang bekerja disebrang kali pemali bisa pulang dengan selamat.
Inilah legenda dari Brebes kisahnya turun temurun diceritakan dari waktu ke waktu, meski tak ada bukti autentik seperti Batu Malin Kundang tetapi kisah ini banyak mengandung ibrah dan tauladan lainya, bahwa amanat itu sangat berharga dan tak ternilai, bahwa kekerasan dan pemaksaaan kehendak akan selalu berakhir dengan keburukan. Kebanyakan orang tua di daerah Brebes akan melarang anaknya memegang sisik ular, takut akan bernasib sama seperti Kisah diatas, seperti penulis yang mendapat cerita legenda ini dari orang tuanya saat bertanya kenapa kita tidak diizinkan memungut sisik ular? Diceritakanlah Legenda Brebes : “Jaka Poleng”, selain alasan kesehatan

Senin, 05 November 2012

babad arya (airlangga)

Pada abad ke-4 di kerajaan Campa di Muangthai bertahta Raja Bhadawarman; selanjutnya beliau diganti oleh Jayawarman (484M), kemudian Manorathawarman (529M), Rudrawarman (530M). Anak Rudrawarman bernama Mulawarman berlayar menyeberangi lautan dan mendirikan Kerajaan Kutai di Kalimantan Utara.
Mulawarman diganti Aswawarman; anaknya bernama Purnawarman mendirikan Kerajaan Tarumanegara di Jawa Barat, dan kemudian anak Purnawarman bernama Mauli Warmadewa mendirikan Kerajaan Sriwijaya di Palembang. Anak Mauli Warmadewa bernama Sri Kesari Warmadewa berlayar ke Bali dan mendirikan Pura Merajan Salonding dan Dalem Puri di Besakih. Silsilah ini dimulai sejak Sri Kesari Warmadewa.
  1. Airlangga pindah ke Jawa Timur, menjadi raja Kahuripan menggantikan Dharmawangsa Teguh Ananta Wikrama, pada tahun 1019 M dengan gelar: “Rakai Halu Sri Lokeswara Dharmawangsa Teguh Wikramottunggadewa”. Adik Airlangga bernama Anak Wungsu kemudian menjadi raja di Bali menggantikan ayahnya. Karena Anak Wungsu tidak ada kaitan dengan keturunan arya di bali, maka di sini tidak diuraikan lebih lanjut.
  2. Airlangga mempunyai putra mahkota dua orang; oleh karena itu kerajaan Kahuripan dipecah dua, Kediri dipimpin Sri Jaya Baya, dan Jjenggala dipimpin Sri Jaya Sabha. Setelah itu Airlangga mengundurkan diri menjadi pendeta dengan bhiseka Rsi Jatayu.
  3. Dengan seorang gadis pegunungan Airlangga mempunyai putra bernama Sira Arya Buru (Arya Timbul). Arya Buru hanya mempunyai seorang anak perempuan bernama Nyi Gunaraksa, dikawini oleh Ki Pasek Tutuan, dengan syarat Ki Pasek Tutuan seketurunan  menyembah roh Arya Buru.
  4. Cucu Sri Jaya Sabha bernama Sira Aryeng Kepakisan dilantik oleh Gajahmada menjadi patih agung di Puri Samprangan, sebagai tangan kanan raja Bali pertama yang diangkat oleh Majapahit pada tahun 1352 M yaitu Sri Aji Kresna Kepakisan.
  5. Bersama-sama Sira Aryeng Kepakisan, turut pula Sira Arya Kuta Waringin untuk memperkuat militer di Bali. Sira Aryeng Kepakisan bertugas di Puri Samprangan, sedangkan Sira Arya Kuta Waringin bertugas dan menetap di Puri Gelgel.
  6. Kiyai Kelapodiana atau Kiyai Kebon Tubuh, putra Sira Arya Kuta Waringin kemudian diangkat sebagai patih agung dengan gelar Kiyai Agung Bendesa Gelgel menggantikan Sira Aryeng Kepakisan
  7. Putra Sira Arya Kuta Waringin yang perempuan (adik bungsu Kiyai Kebon Tubuh) bernama Gusti Ayu Wini Waringin, dikawini oleh raja Sri Aji Kresna Kepakisan, menurunkan I Dewa Tegal Besung. Oleh karena itu Kiyai Kebon Tubuh dipersaudarakan (ipar) dengan Sri Aji Kresna Kepakisan. Pedarman beliau di Besakih adalah di pura Pedarmaan Dalem (dinasti Sri Aji Kresna Kepakisan). Sri Aji Kresna Kepakisan berputra: Dalem Agra Samprangan, Dalem Tarukan, Dewa Ayu Wana, Dalem Sri Semara Kepakisan, dan I Dewa Tegal Besung. Ida Pandita Sri Bhagawan Dwija Warsa Nawa Sandhi dari Geria Tamansari Lingga Ashrama adalah keturunan dari Dalem Tarukan.
  8. Jasa Kiyai Kelapodiana (Kiyai Kubon Tubuh) kepada Dalem Sri Semara Kepakisan adalah meminta agar Dalem Sri Semara Kepakisan (Dalem Ketut Ngulesir) bersedia pulang ke Gelgel untuk menjadi raja, menggantikan kakak beliau Dalem Agra Samprangan yang sakit. Sebelumnya Dalem Ketut Ngulesir berada di Pandak (Tabanan). Putri Kiyai Kelapodiana (Kiyai Kubon Tubuh) bernama I Gusti Ayu Midar dikawini oleh Dalem Sri Semara Kepakisan yang menjadi raja di Gelgel (Klungkung) menggantikan ayahnya, Sri Aji Kresna Kepakisan (setelah kakaknya: Dalem Agra Samprangan meletakkan jabatan pada tahun 1383 M). Jadi Kiyai Kebon Tubuh adalah mertua dari Dalem Sri Semara Kepakisan, yang selanjutnya menurunkan raja-raja Klungkung, dan sekarang menjadi para cokorda di Puri Agung Klungkung (Semarapura). Jasa Kiyai Kebon Tubuh kepada Dalem Sri Semara Kepakisan tidak hanya itu, bahkan tanah kebunnyapun diberikan kepada Dalem untuk dijadikan Istana/Puri Gelgel. Peninggalan istana itu kini ada di Merajan Agung Gelgel, bersebelahan dengan Taman Magenda. Kiyai Kubon Tubuh membangun pamerajan di Gelgel yang sekarang dinamakan pura Merajan Kawitan Kiyai Kubon Tubuh. Dalem Sri Semara Kepakisan meminta kepada Kiyai Kubon Tubuh agar menyungsung dan memelihara pura Dalem Tugu yang terletak di sebelah selatan pura Merajan Kawitan Kiyai Kubon Tubuh. Hari petirtaan kedua pura itu adalah Anggara Kasih Medangsia
  9. Cucu Pangeran Asak yang bernama I Gusti Agung Widia meng-kup raja Gelgel yang bernama Dalem Di Made, lalu menjadi raja Gelgel sejak tahun 1686m s/d 1705 M; beliau bergelar Kiyai Agung Maruti.
  10. Cicit (kumpi) Kiyai Kebon Tubuh yang bernama Kiyai Made Karang diperintahkan oleh Dalem Seganing (raja Gelgel generasi ke 3) mengawal Ki Barak (Kiayi Anglurah Panji Sakti) ke Buleleng. Kemudian beliau diangkat menjadi panglima pasukan “teruna goak” yang menyerang Tabanan dan Badung; ketika pasukan teruna goak sampai di pura Batu Karu (Tabanan) timbul pertikaian diantara pasukan teruna goak itu sendiri, sehingga penyerangan ke Tabanan dihentikan, dan pasukan teruna goak yang merasa malu karena gagal menyerang Tabanan lalu melarikan diri dan melepaskan titel arya-nya. Keturunan Kiyai Made Karang tersebar di Tabanan, Ringdikit, Sangsit, Sidetapa, Jembrana, Busungbiu, Menguwi, dan Jimbaran.
  11. Selanjutnya putra-putra Kiyai Madya Karang terpencar sebagai berikut: Kiyai Wayahan Tubuh ke Bugbug, Kiyai Gede Tubuh ke Tulamben, Kiyai Wayahan Karang ke Tianyar, Kiyai Made Karang ke Purasi, Kiyai Abian Tubuh ke Sengkidu. Putra-putra Kiyai Gede Tubuh menyebar sebagai berikut: Kiyai Karang Tubuh ke Kubutambahan, Kiyai Kubon Tubuh ke Culik, Kiyai Tubuh Tulamben ke Tulamben.
  12. Kiyai Parembu ditugaskan oleh Dalem Agra Samprangan untuk mencari Dalem Tarukan ke pegunungan di sekitar bukit Penida, tetapi tidak bertemu. Akhirnya beliau menetap di desa Bugbug Tegeh. Beliau berputra empat orang: Kiyai Wayahan Kuta Waringin, Kiyai Madya Kuta Raksa, Kiyai Lurah Wantilan, Winihayu Raresik. Putra tertua yaitu Kiyai Wayahan Kuta Waringin menikah dengan putri Kiyai Poh Tegeh (Gusti Ngurah Poh Landung keturunan Arya Getas) yang bernama Winihayu Luh Toya, sedangkan kakak Winihayu Luh Toya yang bernama Gusti Luh Puaji dinikahi oleh Dalem Tarukan menurunkan Gusti Gede Sekar dan Gusti Gede Pulasari. Salah seorang keturunan Gusti Gede Sekar saat ini adalah Ida Pandita Sri Bhagawan Dwija Warsa Nawa Sandhi. Jadi Dalem Tarukan dengan Kiyai Wayahan Kuta Waringin beripar.
  13. Kiyai Wayahan Kuta Waringin mengadakan upacara pelebon Kiyai Parembu, dan kemudian abu sekahnya disimpan di pura yang dibangun di tempat itu, sekarang dikenal sebagai pura Kawitan Kuta Waringin di desa Waringin, kecamatan Rendang. Hari petirtaannya adalah purnama kapat.
  14. Cucu Sri Jaya Baya yang bernama sri jaya kusuma kemudian masuk islam dan menjadi penyebar agama islam di jawa. Beliau terkenal dengan nama raden patah.
  15. Keturunan Sri Jaya Baya yang bernama  Sira Kebo Anabrang, menjadi patih Majapahit dengan gelar Sira Arya Sabrang Lor, kemudian putranya yang bernama Kebo Taruna menjadi senapati dengan gelar Sira Arya Sardula atau lebih terkenal dengan Sira Arya Kanuruhan.
  16. Peristiwa bersejarah dalam pemerintahan Dalem Sri Semara Kepakisan, terjadi di pura Merajan Kawitan Kiyai Kubon Tubuh di Gelgel adalah ditemukannya buah kelapa di bawah tanah yang sangat besar, yang membuktikan bahwa Kiyai Kubon Tubuh masih bersaudara dengan Kiyai Pangeran Nyuh Aya (keturunan Sri Jaya Sabha). Dengan peristiwa itu maka Kiyai Pangeran Nyuh Aya tidak jadi berperang dengan Kiyai Kubon Tubuh. Perselisihan itu terjadi karena Kiyai Kubon Tubuh kawin lari dengan putri Kiyai Pangeran Nyuh Aya yang bernama Ni Gusti Ayu Hadi (Winihayu Adi)
  17. Putri bungsu Kiyai Kubon Tubuh yang bernama Winihayu Abian dinikahi oleh Pangeran Kayumas, menurunkan Kiyai Bendesa Mas, sekarang warih/sentanan beliau bernama Bendesa (Manik) Mas.
  18. Kiyai Kubon Tubuh pernah diutus oleh Dalem Sri Semara Kepakisan ke Blambangan (Banyuwangi) untuk membunuh harimau hitam yang sangat ganas. Beliau berhasil membunuh, dan oleh karena itu maka Dalem Sri Semara Kepakisan memberikan anugrah antara lain sebagai berikut: seketurunan Arya Kuta Waringin/Kiyai Kubon Tubuh bila meninggal dunia, di-aben, boleh menggunakan bade tumpang pitu, berhiaskan kapas 9 warna, balai silunglung, kajang kawitan, balai lunjuk tiga undag, petulangan berbentuk harimau hitam. Benda pusaka yang dihadiahkan kepada beliau berupa sumpitan (tetulup) yang digunakan membunuh harimau di Blambangan itu. Sumpitan itu bernama Ki Macan Guguh.
Kesimpulan:
Keturunan Kiyai Madya Karang disimpulkan sebagai keturunan Kiyai Kelapodiana alias Kiayi Kebon Tubuh. Pura yang juga patut  disungsung di Besakih adalah pura Merajan Salonding dan pura Dalem Puri (dibangun oleh Sri Kesari Warmadewa), pura Pedarman Dalem Dinasti Sri Aji Kresna Kepakisan (pedarman Ida Bethara Sri Aji Kresna Kepakisan dan putra-putranya).
Dikutip dari: Lontar “Babad Arya” dan buku-buku penunjang lainnya.

babad majapahit

Bendera Surya Majapahit
Berkas:Majapahit-map.jpgPeta wilayah kekuasaan Majapahit berdasarkan Nagarakertagama; keakuratan wilayah kekuasaan Majapahit menurut penggambaran orang Jawa masih diperdebatkan.[1]
Ibu kota Majapahit, Wilwatikta (Trowulan)
Bahasa Jawa Kuno, Sansekerta
Agama Hindu, Buddha
Pemerintahan Monarki
Raja
- 1295-1309 Kertarajasa Jayawardhana
- 1478-1498 Girindrawardhana
Sejarah
- Penobatan Raden Wijaya 10 November 1293
- Invasi Demak 1527
Mata uang Koin emas dan perak, kepeng (koin perunggu yang diimpor dari Tiongkok)
Surya Majapahit adalah lambang yang umumnya dapat ditemui di reruntuhan Majapahit, sehingga Surya Majapahit mungkin merupakan simbol kerajaan Majapahit
Majapahit adalah sebuah kerajaan kuno di Indonesia yang pernah berdiri dari sekitar tahun 1293 hingga 1500 M. Kerajaan ini mencapai puncak kejayaannya pada masa kekuasaan Hayam Wuruk, yang berkuasa dari tahun 1350 hingga 1389. Majapahit menguasai kerajaan-kerajaan lainnya di semenanjung Malaya, Borneo, Sumatra, Bali, dan Filipina.
Kejayaan Majapahit
Terakota wajah yang dipercaya sebagai potret Gajah Mada.
Hayam Wuruk, juga disebut Rajasanagara, memerintah Majapahit dari tahun 1350 hingga 1389. Pada masanya, Majapahit mencapai puncak kejayaannya dengan bantuan mahapatihnya, Gajah Mada. Di bawah perintah Gajah Mada (1313-1364), Majapahit menguasai lebih banyak wilayah. Pada tahun 1377, beberapa tahun setelah kematian Gajah Mada, Majapahit melancarkan serangan laut ke Palembang,[2] menyebabkan runtuhnya sisa-sisa kerajaan Sriwijaya. Jenderal terkenal Majapahit lainnya adalah Adityawarman, yang terkenal karena penaklukannya di Minangkabau.
Menurut Kakawin Nagarakretagama pupuh XIII-XV, daerah kekuasaan Majapahit meliputi Sumatra, semenanjung Malaya, Borneo, Sulawesi, kepulauan Nusa Tenggara, Maluku, Papua, dan sebagian kepulauan Filipina. Namun demikian, batasan alam dan ekonomi menunjukkan bahwa daerah-daerah kekuasaan tersebut tampaknya tidaklah berada di bawah kekuasaan terpusat Majapahit, tetapi terhubungkan satu sama lain oleh perdagangan yang mungkin berupa monopoli oleh raja. Majapahit juga memiliki hubungan dengan Campa, Kamboja, Siam, Birma bagian selatan, dan Vietnam, dan bahkan mengirim duta-dutanya ke Tiongkok.
Jatuhnya Majapahit
Sesudah mencapai puncaknya pada abad ke-14, kekuasaan Majapahit berangsur-angsur melemah. Tampaknya terjadi perang saudara (Perang Paregreg) pada tahun 1405-1406, antara Wirabhumi melawan Wikramawardhana. Demikian pula telah terjadi pergantian raja yang dipertengkarkan pada tahun 1450-an, dan pemberontakan besar yang dilancarkan oleh seorang bangsawan pada tahun 1468.
Dalam tradisi Jawa ada sebuah kronogram atau candrasengkala yang berbunyi sirna ilang kretaning bumi. Sengkala ini konon adalah tahun berakhirnya Majapahit dan harus dibaca sebagai 0041, yaitu tahun 1400 Saka, atau 1478 Masehi. Arti sengkala ini adalah “sirna hilanglah kemakmuran bumi”. Namun demikian, yang sebenarnya digambarkan oleh candrasengkala tersebut adalah gugurnya Bre Kertabumi, raja ke-11 Majapahit, oleh Girindrawardhana
Ketika Majapahit didirikan, pedagang Muslim dan para penyebar agama sudah mulai memasuki nusantara. Pada akhir abad ke-14 dan awal abad ke-15, pengaruh Majapahit di seluruh nusantara mulai berkurang. Pada saat bersamaan, sebuah kerajaan perdagangan baru yang berdasarkan agama Islam, yaitu Kesultanan Malaka, mulai muncul di bagian barat nusantara
Catatan sejarah dari Tiongkok, Portugis (Tome Pires), dan Italia (Pigafetta) mengindikasikan bahwa telah terjadi perpindahan kekuasaan Majapahit dari tangan penguasa Hindu ke tangan Adipati Unus, penguasa dari Kesultanan Demak, antara tahun 1518 dan 1521 M
Berikut adalah daftar penguasa Majapahit. Perhatikan bahwa terdapat periode kekosongan antara pemerintahan Rajasawardhana (penguasa ke-8) dan Girishawardhana yang mungkin diakibatkan oleh krisis suksesi yang memecahkan keluarga kerajaan Majapahit menjadi dua kelompok

Raja-raja Majapahit

  1. Raden Wijaya, bergelar Kertarajasa Jayawardhana (1293 – 1309)
  2. Kalagamet, bergelar Sri Jayanagara (1309 – 1328)
  3. Sri Gitarja, bergelar Tribhuwana Wijayatunggadewi (1328 – 1350)
  4. Hayam Wuruk, bergelar Sri Rajasanagara (1350 – 1389)
  5. Wikramawardhana (1389 – 1429)
  6. Suhita (1429 – 1447)
  7. Kertawijaya, bergelar Brawijaya I (1447 – 1451)
  8. Rajasawardhana, bergelar Brawijaya II (1451 – 1453)
  9. Purwawisesa atau Girishawardhana, bergelar Brawijaya III (1456 – 1466)
  10. Pandanalas, atau Suraprabhawa, bergelar Brawijaya IV (1466 – 1468)
  11. Kertabumi, bergelar Brawijaya V (1468 – 1478)
  12. Girindrawardhana, bergelar Brawijaya VI (1478 – 1498)
  13. Hudhara, bergelar Brawijaya VII (1498-1518)
A.   Raden Wijaya
Raden Wijaya (lahir: ? – wafat: Majapahit, 1309) adalah pendiri Kerajaan Majapahit sekaligus raja pertama yang memerintah pada tahun 1293-1309, bergelar Sri Maharaja Sanggramawijaya Sri Kertarajasa Jayawarddhana. Raden Wijaya nerupakan nama yang lazim dipakai para sejarawan untuk menyebut pendiri Kerajaan Majapahit. Nama ini terdapat dalam Pararaton yang ditulis sekitar akhir abad ke-15. Kadang Pararaton juga menulisnya secara lengkap, yaitu Raden Harsawijaya. Padahal menurut bukti-bukti prasasti, pada masa kehidupan Wijaya (abad ke-13 atau 14) pemakaian gelar raden belum populer.
Nagarakretagama yang ditulis pada pertengahan abad ke-14 menyebut pendiri Majapahit bernama Dyah Wijaya. Gelar dyah merupakan gelar kebangsawanan yang populer saat itu dan menjadi cikal bakal gelar Raden. Istilah Raden sendiri diperkirakan berasal dari kata Ra Dyah atau Ra Dyan atau Ra Hadyan.
Nama asli pendiri Majapahit yang paling tepat adalah Nararya Sanggramawijaya, karena nama ini terdapat dalam prasasti Kudadu yang dikeluarkan oleh Wijaya sendiri pada tahun 1294. Gelar Nararya juga merupakan gelar kebangsawanan, meskipun gelar Dyah lebih sering digunakan.

Mendirikan Desa Majapahit

Menurut prasasti Kudadu, pada tahun 1292 terjadi pemberontakan Jayakatwang bupati Gelang-Gelang terhadap kekuasaan Kerajaan Singhasari. Raden Wijaya ditunjuk Kertanegara untuk menumpas pasukan Gelang-Gelang yang menyerang dari arah utara Singhasari. Wijaya berhasil memukul mundur musuhnya. Namun pasukan pemberontak yang lebih besar datang dari arah selatan dan berhasil menewaskan Kertanagara.
Menyadari hal itu, Raden Wijaya melarikan diri hendak berlindung ke Terung di sebelah utara Singhasari. Namun karena terus dikejar-kejar musuh ia memilih pergi ke arah timur. Dengan bantuan kepala desa Kudadu, ia berhasil menyeberangi Selat Madura untuk bertemu Arya Wiraraja penguasa Songeneb (nama lama Sumenep).
Bersama Arya Wiraraja, Raden Wijaya merencanakan siasat untuk merebut kembali takhta dari tangan Jayakatwang. Wijaya berjanji, jika ia berhasil mengalahkan Jayakatwang, maka daerah kekuasaannya akan dibagi dua untuk dirinya dan Wiraraja. Siasat pertama pun dijalankan. Mula-mula, Wiraraja menyampaikan berita kepada Jayakatwang bahwa Wijaya menyatakan menyerah kalah. Jayakatwang yang telah membangun kembali negeri leluhurnya, yaitu Kerajaan Kadiri menerimanya dengan senang hati. Ia pun mengirim utusan untuk menjemput Wijaya di pelabuhan Jungbiru.
Siasat berikutnya, Wijaya meminta Hutan Tarik di sebelah timur Kadiri untuk dibangun sebagai kawasan wisata perburuan. Wijaya mengaku ingin bermukim di sana. Jayakatwang yang gemar berburu segera mengabulkannya tanpa curiga. Wiraraja pun mengirim orang-orang Songeneb untuk membantu Wijaya membuka hutan tersebut. Menurut Kidung Panji Wijayakrama, salah seorang Madura menemukan buah maja yang rasanya pahit. Oleh karena itu, desa pemukiman yang didirikan Wijaya tersebut pun diberi nama Majapahit.

Menjadi Raja Majapahit

Catatan Dinasti Yuan mengisahkan pada tahun 1293 pasukan Mongol sebanyak 20.000 orang dipimpin Ike Mese mendarat di Jawa untuk menghukum Kertanagara, karena pada tahun 1289 Kertanagara telah melukai utusan yang dikirim Kubilai Khan raja Mongol.
Raden Wijaya memanfaatkan kedatangan pasukan Mongol ini untuk menghancurkan Jayakatwang. Ia pun mengundang Ike Mese untuk memberi tahu bahwa dirinya adalah ahli waris Kertanagara yang sudah tewas. Wijaya meminta bantuan untuk merebut kembali kekuasaan Pulau Jawa dari tangan Jayakatwang, dan setelah itu baru ia bersedia menyatakan tunduk kepada bangsa Mongol.
Jayakatwang yang mendengar persekutuan Wijaya dan Ike Mese segera mengirim pasukan Kadiri untuk menghancurkan mereka. Namun pasukan itu justru berhasil dikalahkan oleh pihak Mongol. Selanjutnya, gabungan pasukan Mongol dan Majapahit serta Madura bergerak menyerang Daha, ibu kota Kerajaan Kadiri. Jayakatwang akhirnya menyerah dan ditawan dalam kapal Mongol.
Setelah Jayakatwang dikalahkan, Wijaya meminta izin untuk kembali ke Majapahit mempersiapkan penyerahan dirinya. Ike Mese mengizinkannya tanpa curiga. Sesampainya di Majapahit, Wijaya membunuh para prajurit Mongol yang mengawalnya. Ia kemudian memimpin serangan balik ke arah Daha di mana pasukan Mongol sedang berpesta kemenangan. Serangan mendadak itu membuat Ike Mese kehilangan banyak prajurit dan terpaksa menarik mundur pasukannya meninggalkan Jawa.
Wijaya kemudian menobatkan dirinya menjadi raja Majapahit. Menurut Kidung Harsa Wijaya, penobatan tersebut terjadi pada tanggal 15 bulan Karttika tahun 1215 Saka, atau bertepatan dengan 12 November 1293.

Masa Pemerintahan

Dalam memerintah Majapahit, Wijaya mengangkat para pengikutnya yang dulu setia dalam perjuangan. Nambi diangkat sebagai patih Majapahit, Lembu Sora sebagai patih Daha, Arya Wiraraja dan Ranggalawe sebagai pasangguhan. Pada tahun 1294 Wijaya juga memberikan anugerah kepada pemimpin desa Kudadu yang dulu melindunginya saat pelarian menuju Pulau Madura.
Pada tahun 1295 seorang tokoh licik bernama Mahapati menghasut Ranggalawe untuk memberontak. Pemberontakan ini dipicu oleh pengangkatan Nambi sebagai patih, dan menjadi perang saudara pertama yang melanda Majapahit. Setelah Ranggalawe tewas, Wiraraja mengundurkan diri dari jabatannya sebagai pasangguhan. Ia menagih janji Wijaya tentang pembagian wilayah kerajaan. Wijaya mengabulkannya. Maka, sejak saat itu, wilayah kerajaan pun hanya tinggal setengah, di mana yang sebelah timur dipimpin oleh Wiraraja dengan ibu kota di Lamajang (nama lama Lumajang).
Pada tahun 1300 terjadi peristiwa pembunuhan Lembu Sora, paman Ranggalawe. Dalam pemberontakan Ranggalawe, Sora memihak Majapahit. Namun, ketika Ranggalawe dibunuh dengan kejam oleh Kebo Anabrang, Sora merasa tidak tahan dan berbalik membunuh Anabrang. Peristiwa ini diungkit-ungkit oleh Mahapati sehingga terjadi suasana perpecahan. Pada puncaknya, Sora dan kedua kawannya, yaitu Gajah Biru dan Jurudemung tewas dibantai kelompok Nambi di halaman istana.

Akhir Hayat

Menurut Nagarakretagama, Raden Wijaya meninggal dunia pada tahun 1309. Ia dimakamkan di Antahpura dan dicandikan di Simping sebagai Harihara, atau perpaduan Wisnu dan Siwa. Wijaya digantikan Jayanagara sebagai raja selanjutnya.
B. Jayanagara
Jayanagara (lahir: 1294 – wafat: 1328) adalah raja kedua Kerajaan Majapahit yang memerintah pada tahun 1309-1328, dengan bergelar Sri Maharaja Wiralandagopala Sri Sundarapandya Dewa Adhiswara. Pemerintahan Jayanagara terkenal sebagai masa pergolakan dalam sejarah awal Kerajaan Majapahit. Ia sendiri meninggal akibat dibunuh oleh tabib istananya.

Asal-Usul

Menurut Pararaton, nama asli Jayanagara adalah Raden Kalagemet putra Raden Wijaya dan Dara Petak. Ibunya ini berasal dari Kerajaan Dharmasraya di Pulau Sumatra. Ia dibawa Kebo Anabrang ke tanah Jawa sepuluh hari setelah pengusiran pasukan Mongol oleh pihak Majapahit. Raden Wijaya yang sebelumnya telah memiliki dua orang istri putri Kertanagara, kemudian menjadikan Dara Petak sebagai Stri Tinuheng Pura, atau “istri yang dituakan di istana”.
Menurut Pararaton, pengusiran pasukan Mongol dan berdirinya Kerajaan Majapahit terjadi pada tahun 1294. Sedangkan menurut kronik Cina dari dinasti Yuan, pasukan yang dipimpin oleh Ike Mese itu meninggalkan Jawa tanggal 24 April 1293. Naskah Nagarakretagama juga menyebut angka tahun 1293. Sehingga, jika berita-berita di atas dipadukan, maka kedatangan Kebo Anabrang dan Dara Petak dapat diperkirakan terjadi pada tanggal 4 Mei 1293, dan kelahiran Jayanagara terjadi dalam tahun 1294.
Nama Dara Petak tidak dijumpai dalam Nagarakretagama dan prasasti-prasasti peninggalan Majapahit. Menurut Nagarakretagama, Raden Wijaya bukan hanya menikahi dua, tetapi empat orang putri Kertanagara, yaitu Tribhuwaneswari, Narendraduhita, Jayendradewi, dan Gayatri. Sedangkan Jayanagara dilahirkan dari istri yang bernama Indreswari. Hal ini menimbulkan dugaan kalau Indreswari adalah nama lain Dara

Naik Takhta

Nagarakretagama menyebutkan Jayanagara diangkat sebagai yuwaraja atau raja muda di Kadiri atau Daha pada tahun 1295. Nama Jayanagara juga muncul dalam prasasti Penanggungan tahun 1296 sebagai putra mahkota. Mengingat Raden Wijaya menikahi Dara Petak pada tahun 1293, maka Jayanagara dapat dipastikan masih sangat kecil ketika diangkat sebagai raja muda. Tentu saja pemerintahannya diwakili oleh Lembu Sora yang disebutkan dalam prasasti Pananggungan menjabat sebagai patih Daha.
Dari prasasti tersebut dapat diketahui pula bahwa Jayanagara adalah nama asli sejak kecil atau garbhopati, bukan nama gelar atau abhiseka. Sementara nama Kalagemet yang diperkenalkan Pararaton jelas bernada ejekan, karena nama tersebut bermakna “jahat” dan “lemah”.
Jayanagara naik takhta menjadi raja Majapahit menggantikan ayahnya yang menurut Nagarakretagama meninggal dunia tahun 1309.

Kematian Jayanagara

Pararaton mengisahkan Jayanagara dilanda rasa takut kehilangan takhtanya. Ia pun melarang kedua adiknya, yaitu Dyah Gitarja dan Dyah Wiyat menikah karena khawatir iparnya bisa menjadi saingan. Bahkan muncul desas-desus kalau kedua putri yang lahir dari Gayatri itu hendak dinikahi oleh Jayanagara sendiri.
Desas-desus itu disampaikan Ra Tanca kepada Gajah Mada yang saat itu sudah menjadi abdi kesayangan Jayanagara. Ra Tanca juga menceritakan tentang istrinya yang diganggu oleh Jayanagara. Namun Gajah Mada seolah tidak peduli pada laporan tersebut.
Ra Tanca adalah tabib istana. Suatu hari ia dipanggil untuk mengobati sakit bisul Jayanagara. Dalam kesempatan itu Tanca berhasil membunuh Jayanagara di atas tempat tidur. Gajah Mada yang menunggui jalannya pengobatan segera menghukum mati Tanca di tempat itu juga, tanpa proses pengadilan.
Peristiwa itu terjadi tahun 1328. Menurut Pararaton Jayanagara didharmakan dalam candi Srenggapura di Kapopongan dengan arca di Antawulan. Sedangkan menurut Nagarakretagama ia dimakamkan di dalam pura berlambang arca Wisnuparama. Jayanagara juga dicandikan di Silapetak dan Bubat sebagai Wisnu serta di Sukalila sebagai Buddha jelmaan Amogasidi.
Jayanagara meninggal dunia tanpa memiliki keturunan. Oleh karena itu takhta Majapahit kemudian jatuh kepada adiknya, yaitu Dyah Gitarja yang bergelar Tribhuwana Tunggadewi
C. Tribhuwana Wijayatunggadewi
Tribhuwana Wijayatunggadewi adalah penguasa ketiga Majapahit yang memerintah tahun 1328-1351. Dari prasasti Singasari (1351) diketahui gelar abhisekanya ialah Sri Tribhuwanotunggadewi Maharajasa Jayawisnuwardhani.

Pemerintahan Tribhuwana

Menurut Nagarakretagama, Tribhuwana naik takhta atas perintah ibunya (Gayatri) tahun 1329 menggantikan Jayanagara yang meninggal tahun 1328. Ketika Gayatri meninggal dunia tahun 1350, pemerintahan Tribhuwana pun berakhir pula.
Berita tersebut menimbulkan kesan bahwa Tribhuwana naik takhta mewakili Gayatri. Meskipun Gayatri hanyalah putri bungsu Kertanagara, tapi mungkin ia satu-satunya yang masih hidup di antara istri-istri Raden Wijaya sehingga ia dapat mewarisi takhta Jayanagara yang meninggal tanpa keturunan. Tetapi saat itu Gayatri telah menjadi pendeta Buddha, sehingga pemerintahannya pun diwakili putrinya, yaitu Tribhuwana Tunggadewi.
Menurut Nagarakretagama, Tribhuwana memerintah didampingi suaminya, Kertawardhana. Pada tahun 1331 ia menumpas pemberontakan daerah Sadeng dan Keta. Menurut Pararaton terjadi persaingan antara Gajah Mada dan Ra Kembar dalam memperebutkan posisi panglima penumpasan Sadeng. Maka, Tribhuwana pun berangkat sendiri sebagai panglima menyerang Sadeng, didampingi sepupunya, Adityawarman.
Peristiwa penting berikutnya dalam Pararaton adalah Sumpah Palapa yang diucapkan Gajah Mada saat dilantik sebagai rakryan patih Majapahit tahun 1334. Gajah Mada bersumpah tidak akan menikmati makanan enak (rempah-rempah) sebelum berhasil menaklukkan wilayah kepulauan Nusantara di bawah Majapahit.
Pemerintahan Tribhuwana terkenal sebagai masa perluasan wilayah Majapahit ke segala arah sebagai pelaksanaan Sumpah Palapa. Tahun 1343 Majapahit mengalahkan raja Kerajaan Pejeng (Bali), Dalem Bedahulu, dan kemudian seluruh Bali. Tahun 1347 Adityawarman yang masih keturunan Melayu dikirim untuk menaklukkan sisa-sisa Kerajaan Sriwijaya dan Kerajaan Malayu. Ia kemudian menjadi uparaja (raja bawahan) Majapahit di wilayah Sumatera. Perluasan Majapahit dilanjutkan pada masa pemerintahan Hayam Wuruk, di mana wilayahnya hingga mencapai Lamuri di ujung barat sampai Wanin di ujung timur.
Nagarakretagama menyebutkan akhir pemerintahan Tribhuwana adalah tahun 1350, bersamaan dengan meninggalnya Gayatri. Berita ini kurang tepat karena menurut prasasti Singasari, pada tahun 1351 Tribhuwana masih menjadi raja Majapahit.

Akhir Hayat Tribhuwana

Tribhuwana Wijayatunggadewi diperkirakan turun takhta tahun 1351 (sesudah mengeluarkan prasasti Singasari). Ia kemudian kembali menjadi Bhre Kahuripan yang tergabung dalam Saptaprabhu, yaitu semacam dewan pertimbangan agung yang beranggotakan keluarga raja. Adapun yang menjadi raja Majapahit selanjutnya adalah putranya, yaitu Hayam Wuruk.
Tidak diketahui dengan pasti kapan tahun kematian Tribhuwana. Pararaton hanya memberitakan Bhre Kahuripan tersebut meninggal dunia setelah pengangkatan Gajah Enggon sebagai patih tahun 1371.
Menurut Pararaton, Tribhuwanotunggadewi didharmakan dalam Candi Pantarapura yang terletak di desa Panggih. Sedangkan suaminya, yaitu Kertawardhana Bhre Tumapel meninggal tahun 1386, dan didharmakan di Candi Sarwa Jayapurwa, yang terletak di desa Japan.
D.   Hayam Wuruk
Dyah Hayam Wuruk adalah raja keempat Kerajaan Majapahit yang memerintah tahun 1351-1389, bergelar Maharaja Sri Rajasanagara. Di bawah pemerintahannya, Kerajaan Majapahit mencapai zaman kejayaannya.

Silsilah Hayam Wuruk

Nama Hayam Wuruk artinya “ayam yang terpelajar”. Ia adalah putra pasangan Tribhuwana Tunggadewi dan Sri Kertawardhana alias Cakradhara. Ibunya adalah putri Raden Wijaya pendiri Majapahit, sedangkan ayahnya adalah raja bawahan di Singhasari bergelar Bhre Tumapel.
Hayam Wuruk dilahirkan tahun 1334. Peristiwa kelahirannya diawali dengan gempa bumi di Pabanyu Pindah dan meletusnya Gunung Kelud. Pada tahun itu pula Gajah Mada mengucapkan Sumpah Palapa.
Hayam Wuruk memiliki adik perempuan bernama Dyah Nertaja alias Bhre Pajang, dan adik angkat bernama Indudewi alias Bhre Lasem, yaitu putri Rajadewi, adik ibunya.
Permaisuri Hayam Wuruk bernama Sri Sudewi bergelar Padukasori putri Wijayarajasa Bhre Wengker. Dari perkawinan itu lahir Kusumawardhani yang menikah dengan Wikramawardhana putra Bhre Pajang. Hayam Wuruk juga memiliki putra dari selir yang menjabat sebagai Bhre Wirabhumi, yang menikah dengan Nagarawardhani putri Bhre Lasem.

Masa pemerintahan Hayam Wuruk

Di bawah kekuasaan Hayam Wuruk, Majapahit menaklukkan Kerajaan Pasai dan Aru (kemudian bernama Deli, dekat Medan sekarang). Majapahit juga menghancurkan Palembang, sisa-sisa pertahanan Kerajaan Sriwijaya (1377).

Peristiwa Bubat

Tahun 1351, Hayam Wuruk hendak menikahi puteri Raja sunda (di Jawa Barat), Diah Pitaloka Citrasemi. Pajajaran setuju asal bukan maksud Majapahit untuk mencaplok Pajajaran. Ketika dalam perjalanan menuju upacara pernikahan, Gajah Mada mendesak Pajajaran untuk menyerahkan puteri sebagai upeti dan tunduk kepada Majapahit. Pajajaran menolak, akhirnya pecah pertempuran, Perang Bubat. Dalam peristiwa menyedihkan ini seluruh rombongan Pajajaran tewas, dan dalam beberapa tahun Pajajaran menjadi wilayah Majapahit.
“Kecelakaan sejarah” ini hingga sekarang masih dikenang terus oleh masyarakat Jawa Barat dalam bentuk penolakan nama Hayam Wuruk dan Gajah Mada bagi pemberian

Suksesor

Tahun 1389, Hayam Wuruk meninggal dengan dua anak: Kusumawardhani (yang bersuami Wikramawardhana), serta Wirabhumi yang merupakan anak dari selirnya. Namun yang menjadi pengganti Hayam Wuruk adalah menantunya, Wikramawardhana.
E.    Wikramawardhana
Wikramawardhana adalah raja kelima Majapahit yang memerintah berdampingan dengan istri sekaligus sepupunya, yaitu Kusumawardhani putri Hayam Wuruk, pada tahun 1389-1427.

Silsilah Wikramawardhana dan Kusumawardhani

Wikramawardhana dalam Pararaton bergelar Bhra Hyang Wisesa Aji Wikrama. Nama aslinya adalah Raden Gagak Sali. Ibunya bernama Dyah Nertaja, adik Hayam Wuruk, yang menjabat sebagai Bhre Pajang. Sedangkan ayahnya bernama Raden Sumana yang menjabat sebagai Bhre Paguhan, bergelar Singhawardhana.
Permaisurinya, yaitu Kusumawardhani adalah putri Hayam Wuruk yang lahir dari Padukasori. Dalam Nagarakretagama (ditulis 1365), Kusumawardhani dan Wikramawardhana diberitakan sudah menikah. Padahal waktu itu Hayam Wuruk baru berusia 31 tahun. Maka, dapat dipastikan kalau kedua sepupu tersebut telah dijodohkan sejak kecil.
Dari perkawinan itu, lahir putra mahkota bernama Rajasakusuma bergelar Hyang Wekasing Sukha, yang meninggal sebelum sempat menjadi raja.
Pararaton juga menyebutkan, Wikramawardhana memiliki tiga orang anak dari selir, yaitu Bhre Tumapel, Suhita, dan Kertawijaya.Bhre Tumapel lahir dari Bhre Mataram, putri Bhre Pandansalas. Ia menggantikan Rajasakusuma sebagai putra mahkota, tetapi juga meninggal sebelum sempat menjadi raja.Kedudukan sebagai pewaris takhta kemudian dijabat oleh Suhita yang lahir dari Bhre Daha putri Bhre Wirabhumi.

Awal Pemerintahan Wikramawardhana dan Kusumawardhani

Saat Nagarakretagama ditulis tahun 1365, Kusumawardhani masih menjadi putri mahkota sekaligus Bhre Kabalan. Sedangkan Wikramawardhana menjabat Bhre Mataram dan mengurusi masalah perdata.
Menurut Pararaton, sepeninggal Hayam Wuruk tahun 1389, Kusumawardhani dan Wikramawardhana naik takhta dan memerintah berdampingan. Jabatan Bhre Mataram lalu dipegang oleh selir Wikramawardhana, yaitu putri Bhre Pandansalas alias Ranamanggala. Ibu Bhre Mataram adalah adik Wikramawardhana sendiri yang bernama Surawardhani alias Bhre Kahuripan. Jadi, Wikramawardhana menikahi keponakannya sendiri sebagai selir.

Raja sakusuma sang putra mahkota diperkirakan mewarisi jabatan Bhre Kabalan menggantikan ibunya, meskipun tidak disebut secara tegas dalam Pararaton. Pada tahun 1398 Rajasakusuma mengangkat Gajah Menguri sebagai patih menggantikan Gajah Enggon yang meninggal dunia. Berita dalam Pararaton ini harus ditafsirkan sebagai “mengusulkan”, bukan “melantik”. Akhir Pemerintahan Wikramawardhana

Perang Paregreg membawa kerugian besar bagi Majapahit. Banyak daerah-daerah bawahan di luar Jawa melepaskan diri ketika istana barat dan timur sibuk berperang.
Wikramawardhana juga berhutang ganti rugi pada kaisar Dinasti Ming penguasa Cina. Ketika terjadi penyerbuan ke timur, sebanyak 170 orang anak buah Laksamana Ceng Ho ikut terbunuh. Padahal waktu itu Ceng Ho sedang menjadi duta besar mengunjungi Jawa.
Menurut kronik Cina tulisan Ma Huan (sekretaris Ceng Ho), Wikramawardhana diwajibkan membayar denda pada kaisar sebesar 60.000 tahil. Sampai tahun 1408 baru bisa diangsur 10.000 tahil saja. Akhirnya, kaisar membebaskan hutang tersebut karena kasihan.
Pada tahun 1426 terjadi bencana kelaparan melanda Majapahit. Bhre Tumapel sang putra mahkota meninggal dunia tahun 1427. Candi makamnya di Lokerep bernama Asmarasaba. Disusul kemudian kematian istri dan putra Bhre Tumapel, yaitu Bhre Lasem dan Bhre Wengker.
Wikramawardhana akhirnya meninggal pula akhir tahun 1427. Ia dicandikan di Wisesapura yang terletak di Bayalangu.Rajasakusuma meninggal tahun 1399. Candi makamnya bernama Paramasuka Pura di Tanjung. Kedudukan putra mahkota lalu dijabat Bhre Tumapel putra Wikramawardhana dan Bhre Mataram.
Pada tahun 1400 Wikramawardhana turun takhta untuk hidup sebagai pendeta. Kusumawardhani pun memerintah secara penuh di Majapahit.
Peninggalan sejarah Wikramawardhana berupa prasasti Katiden (1395), yang berisi penetapan Gunung Lejar sebagai tempat pendirian sebuah bangunan suci.
F.    Suhita
Prabu Stri Suhita adalah raja wanita Majapahit yang memerintah tahun 1427-1447, bersama suaminya yang bernama Bhra Hyang Parameswara Ratnapangkaja.

Pemerintahan Suhita

Suhita memerintah berdampingan dengan Ratnapangkaja bergelar Bhatara Parameswara. Pada tahun 1433 Suhita membalas kematian Bhre Wirabhumi dengan cara menghukum mati Raden Gajah alias Bhra Narapati. Dari berita ini terasa masuk akal kalau hubungan Bhre Wirabhumi dan Suhita adalah kakek dan cucu, meskipun tidak disebut secara tegas dalam Pararaton.
Nama Suhita juga muncul dalam kronik Cina dari Kuil Sam Po Kong sebagai Su-king-ta, yaitu raja Majapahit yang mengangkat Gan Eng Cu sebagai pemimpin masyarakat Cina di Tuban dengan pangkat A-lu-ya. Tokoh Gan Eng Cu ini identik dengan Arya Teja, kakek Sunan Kalijaga.
Pada tahun 1437 Bhatara Parameswara Ratnapangkaja meninggal dunia. Sepuluh tahun kemudian, yaitu tahun 1447 Suhita meninggal pula. Pasangan suami istri itu dicandikan bersama di Singhajaya.
Karena tidak memiliki putra mahkota, Suhita digantikan adiknya, yaitu Dyah Kertawijaya, sebagai raja selanjutnya.
G. Kertawijaya
Dyah Kertawijaya adalah raja Majapahit yang memerintah tahun 1447-1451 dengan gelar Sri Maharaja Wijaya Parakramawardhana. Menurut Pararaton, Kertawijaya adalah putra Wikramawardhana dari selir. Putra Wikramawardhana yang lain adalah Hyang Wekasing Sukha, Bhre Tumapel, dan Suhita. Sebelum menjadi raja, Kertawijaya pernah menjadi Bhre Tumapel, yaitu menggantikan kakaknya yang meninggal awal tahun 1427.
Kertawijaya naik takhta menggantikan Suhita tahun 1447. Pada masa pemerintahannya sering terjadi gempa bumi dan gunung meletus. Juga terjadi peristiwa pembunuhan penduduk Tidung Galating oleh keponakannya, yaitu Bhre Paguhan putra Bhre Tumapel.
Kertawijaya wafat tahun 1451. Ia dicandikan di Kertawijayapura. Kedudukannya sebagai raja digantikan Rajasawardhana
Hubungan antara Rajasawardhana dengan Kertawijaya tidak disebut secara tegas dalam Pararaton, sehingga muncul pendapat yang mengatakan kalau Rajasawardhana naik takhta setelah membunuh Kertawijaya. Pendapat lain mengatakan Rajasawardhana adalah putra Kertawijaya yang nama aslinya tercatat dalam prasasti Waringin Pitu sebagai Dyah Wijayakumara.
H. Brawijaya
Prabu Brawijaya (lahir: ? – wafat: 1478) atau kadang disebut Brawijaya V adalah raja terakhir Kerajaan Majapahit versi naskah-naskah babad dan serat, yang memerintah sampai tahun 1478. Tokoh ini diperkirakan sebagai tokoh fiksi namun sangat legendaris. Ia sering dianggap sama dengan Bhre Kertabhumi, yaitu nama yang ditemukan dalam penutupan naskah Pararaton. Namun pendapat lain mengatakan bahwa Brawijaya cenderung identik dengan Dyah Ranawijaya, yaitu tokoh yang pada tahun 1486 mengaku sebagai penguasa Majapahit, Janggala, dan Kadiri.

Kisah hidup

Babad Tanah Jawi menyebut nama asli Brawijaya adalah Raden Alit. Ia naik tahta menggantikan ayahnya yang bernama Prabu Bratanjung, dan kemudian memerintah dalam waktu yang sangat lama, yaitu sejak putra sulungnya[rujukan?] yang bernama Arya Damar belum lahir, sampai akhirnya turun takhta karena dikalahkan oleh putranya yang lain, yaitu Raden Patah yang juga anak tiri Arya Damar.[rujukan?]
Brawijaya memiliki permaisuri bernama Ratu Dwarawati, seorang muslim dari Campa. Patihnya bernama Gajah Mada. Jumlah selirnya banyak sekali. Dari mereka, antara lain, lahir Arya Damar bupati Palembang, Raden Patah bupati Demak, Batara Katong bupati Ponorogo, serta Bondan Kejawan leluhur raja-raja Kesultanan Mataram.
Sementara itu Serat Kanda menyebut nama asli Brawijaya adalah Angkawijaya, putra Prabu Mertawijaya dan Ratu Kencanawungu. Mertawijaya adalah nama gelar Damarwulan yang menjadi raja Majapahit setelah mengalahkan Menak Jingga bupati Blambangan.
Sementara itu pendiri Kerajaan Majapahit versi naskah babad dan serat bernama Jaka Sesuruh, bukan Raden Wijaya sebagaimana fakta yang sebenarnya terjadi. Menurut Serat Pranitiradya, yang bernama Brawijaya bukan hanya raja terakhir saja, tetapi juga beberapa raja sebelumnya. Naskah serat ini menyebut urutan raja-raja Majapahit ialah:
  • Jaka Sesuruh bergelar Prabu Bratana
  • Prabu Brakumara
  • Prabu Brawijaya I
  • Ratu Ayu Kencanawungu
  • Prabu Brawijaya II
  • Prabu Brawijaya III
  • Prabu Brawijaya IV
  • dan terakhir, Prabu Brawijaya V
Baik itu pemerintahan Brawijaya ataupun Brawijaya V sama-sama dikisahkan berakhir akibat serangan putranya sendiri yang bernama Raden Patah pada tahun 1478. Raden Patah kemudian menjadi raja pertama Kesultanan Demak, bergelar Panembahan Jimbun

Asal usul nama

Meskipun sangat populer, nama Brawijaya ternyata tidak pernah dijumpai dalam naskah Pararaton ataupun prasasti-prasasti peninggalan Kerajaan Majapahit. Oleh karena itu, perlu diselidiki dari mana para pengarang naskah babad dan serat memperoleh nama tersebut.
Nama Brawijaya berasal dari kata Bhra Wijaya. Gelar bhra adalah singkatan dari bhatara, yang bermakna “baginda”. Sedangkan gelar bhre yang banyak dijumpai dalam Pararaton berasal dari gabungan kata bhra i, yang bermakna “baginda di”. Dengan demikian, Brawijaya dapat juga disebut Bhatara Wijaya.
Menurut catatan Tome Pires yang berjudul Suma Oriental, pada tahun 1513 di Pulau Jawa ada seorang raja bernama Batara Vigiaya. Ibu kota kerajaannya terletak di Dayo. Pemerintahannya hanya bersifat simbol, karena yang berkuasa penuh adalah mertuanya yang bernama Pate Amdura.
Batara Vigiaya, Dayo, dan Pate Amdura adalah ejaan Portugis untuk Bhatara Wijaya, Daha, dan Patih Mahodara. Tokoh Bhatara Wijaya ini kemungkinan identik dengan Dyah Ranawijaya yang mengeluarkan prasasti Jiyu tahun 1486, di mana ia mengaku sebagai penguasa Majapahit, Janggala, dan Kadiri. Pusat pemerintahan Dyah Ranawijaya terletak di Daha. Dengan kata lain, saat itu Daha adalah ibu kota Majapahit.
Babad Sengkala mengisahkan pada tahun 1527 Kadiri atau Daha runtuh akibat serangan Sultan Trenggana dari Kesultanan Demak. Tidak diketahui dengan pasti apakah saat itu penguasa Daha masih dijabat oleh Bhatara Ranawijaya atau tidak. Namun apabila benar demikian, berarti Ranawijaya merupakan raja Daha yang terakhir.
Mungkin Bhatara Ranawijaya inilah yang namanya tercatat dalam ingatan masyarakat Jawasebagai raja Majapahit yang terakhir, yang namanya kemudian disingkat sebagai Brawijaya. Namun, karena istilah Majapahit identik dengan daerah Trowulan, Mojokerto, maka Brawijaya pun “ditempatkan” sebagai raja yang memerintah di sana, bukan di Daha.
Kerajaan Majapahit yang berpusat di Trowulan menurut ingatan masyarakat Jawa berakhir pada tahun 1478. Oleh karena itu, Brawijaya pun dikisahkan meninggal pada tahun tersebut. Padahal Bhatara Ranawijaya diketahui masih mengeluarkan prasasti Jiyu tahun 1486. Rupanya para pujangga penulis naskah babad dan serat tidak mengetahui kalau setelah tahun 1478 pusat Kerajaan Majapahit berpindah dari Trowulan menuju Daha.

Bhre Kertabhumi dalam Pararaton

Pararaton hanya menceritakan sejarah Kerajaan Majapahit yang berakhir pada tahun 1478 Masehi (atau tahun 1400 Saka). Pada bagian penutupan naskah tersebut tertulis:
Bhre Pandansalas menjadi Bhre Tumapel kemudian menjadi raja pada tahun Saka 1388, baru menjadi raja dua tahun lamanya kemudian pergi dari istana anak-anak Sang Sinagara yaitu Bhre Kahuripan, Bhre Mataram, Bhre Pamotan, dan yang bungsu Bhre Kertabhumi terhitung paman raja yang meninggal dalam istana tahun Saka 1400.
Kalimat penutupan Pararaton tersebut terkesan ambigu.[rujukan?] Tidak jelas siapa yang pergi dari istana pada tahun Saka 1390, apakah Bhre Pandansalas ataukah anak-anak Sang Sinagara. Tidak jelas pula siapa yang meninggal dalam istana pada tahun Saka 1400, apakah Bhre Kertabhumi, ataukah raja sebelumnya.
Teori yang cukup populer[rujukan?] menyebut Bhre Kertabhumi sebagai tokoh yang meninggal tahun 1400 Saka (1478 Masehi). Teori ini mendapat dukungan dengan ditemukannya naskah kronik Cina dari kuil Sam Po Kong Semarang yang menyebut nama Kung-ta-bu-mi sebagai raja Majapahit terakhir. Nama Kung-ta-bu-mi ini diperkirakan sebagai ejaan Cina untuk Bhre Kertabhumi.
Sementara itu dalam Serat Kanda disebutkan bahwa, Brawijaya adalah raja terakhir Majapahit yang dikalahkan oleh Raden Patah pada tahun Sirna ilang KERTA-ning BUMI, atau 1400 Saka. Atas dasar berita tersebut, tokoh Brawijaya pun dianggap identik[rujukan?] dengan Bhre Kertabhumi atau Kung-ta-bu-mi. Perbedaannya ialah, Brawijaya memerintah dalam waktu yang sangat lama sedangkan pemerintahan Bhre Kertabhumi relatif singkat.

[sunting] Kung-ta-bu-mi dalam Kronik Cina

Naskah kronik Cina yang ditemukan dalam kuil Sam Po Kong di Semarang antara lain mengisahkan akhir Kerajaan Majapahit sampai berdirinya Kerajaan Pajang.
Dikisahkan, raja terakhir Majapahit bernama Kung-ta-bu-mi. Salah satu putranya bernama Jin Bun yang dibesarkan oleh Swan Liong, putra Yang-wi-si-sa dari seorang selir Cina. Pada tahun 1478 Jin Bun menyerang Majapahit dan membawa Kung-ta-bu-mi secara hormat ke Bing-to-lo.
Kung-ta-bu-mi merupakan ejaan Cina untuk Bhre Kertabhumi. Jin Bun dari Bing-to-lo adalah Panembahan Jimbun alias Raden Patah dari Demak Bintara. Swan Liong identik dengan Arya Damar. Sedangkan Yang-wi-si-sa bisa berarti Hyang Wisesa alias Wikramawardhana, atau bisa pula Hyang Purwawisesa. Keduanya sama-sama pernah menjadi raja di Majapahit.
Menurut Babad Tanah Jawi dan Serat Kanda, tokoh Arya Damar adalah anak Brawijaya dari seorang raksasa perempuan bernama Endang Sasmintapura. Jadi, Arya Damar adalah kakak tiri sekaligus ayah angkat Raden Patah.
Menurut kronik Cina di atas, Raden Patah adalah putra Bhre Kertabhumi, sedangkan Swan Liong adalah putra Hyang Wisesa dari seorang selir berdarah Cina. Kisah ini terkesan lebih masuk akal daripada uraian versi babad dan serat.
Selanjutnya dikisahkan pula, setelah kekalahan Kung-ta-bu-mi, Majapahit pun menjadi bawahan Demak. Bekas kerajaan besar ini kemudian diperintah oleh Nyoo Lay Wa, seorang Cina muslim sebagai bupati. Pada tahun 1486 Nyoo Lay Wa tewas karena unjuk rasa penduduk pribumi. Maka, Jin Bun pun mengangkat iparnya, yaitu Pa-bu-ta-la, menantu Kung-ta-bu-mi, sebagai bupati baru.
Tokoh Pa-bu-ta-la identik dengan Prabhu Natha Girindrawardhana alias Dyah Ranawijaya dalam prasasti Jiyu 1486. Jadi, menurut berita Cina tersebut, Dyah Ranawijaya alias Bhatara Wijaya adalah saudara ipar sekaligus bupati bawahan Raden Patah. Dengan kata lain, Bhra Wijaya adalah menantu Bhre Kertabhumi menurut kronik Cina.

Teori keruntuhan Majapahit

Peristiwa runtuhnya Kerajaan Majapahit yang berpusat di Trowulan, Mojokerto diyakini terjadi pada tahun 1478, namun sering diceritakan dalam berbagai versi, antara lain:
  • Raja terakhir adalah Brawijaya. Ia dikalahkan oleh Raden Patah dari Demak Bintara. Konon Brawijaya kemudian masuk Islam melalui Sunan Kalijaga. Ada pula yang mengisahkan Brawijaya melarikan diri ke Pulau Bali. Meskipun teori yang bersumber dari naskah-naskah babad dan serat ini uraiannya terkesan khayal dan tidak masuk akal, namun sangat populer dalam masyarakat Jawa.
  • Raja terakhir adalah Bhre Kertabhumi. Ia dikalahkan oleh Raden Patah. Setelah itu Majapahit menjadi bawahan Kesultanan Demak. Teori ini muncul berdasarkan ditemukannya kronik Cina dari Kuil Sam Po Kong Semarang.
  • Raja terakhir adalah Bhre Kertabhumi. Ia dikalahkan oleh Girindrawardhana Dyah Ranawijaya alias Bhatara Wijaya. Teori ini muncul berdasarkan penemuan prasasti Petak yang mengisahkan pernah terjadi peperangan antara keluarga Girindrawardhana melawan Majapahit.
  • Raja terakhir adalah Bhre Pandansalas yang dikalahkan oleh anak-anak Sang Sinagara. Teori ini muncul karena Pararaton tidak menyebutkan secara jelas apakah Bhre Kertabhumi merupakan raja terakhir Majapahit atau bukan. Selain itu kalimat sebelumnya juga terkesan ambigu, apakah yang meninggalkan istana pada tahun 1390 Saka (1468 Masehi) adalah Bhre Pandansalas, ataukah anak-anak Sang Sinagara. Teori yang menyebut Bhre Pandansalas sebagai raja terakhir mengatakan kalau pada tahun 1478, anak-anak Sang Sinagara kembali untuk menyerang Majapahit. Jadi, menurut teori ini, Bhre Pandansalas mati dibunuh oleh Bhre Kertabhumi dan sudara-saudaranya pada tahun 1478.

Pemakaian nama Brawijaya

Meskipun kisah hidupnya dalam naskah babad dan serat terkesan khayal dan tidak masuk akal, namun nama Brawijaya sangat populer, terutama di daerah Jawa Timur.
Hampir setiap kota di Pulau Jawa, khususnya Jawa Timur menggunakan Brawijaya sebagai nama jalan. Nama Brawijaya juga diabadikan menjadi nama suatu perguruan tinggi negeri di Kota Malang, yaitu Universitas Brawijaya. Juga terdapat Stadion Brawijaya dan Museum Brawijaya di kota yang sama. Di samping itu kesatuan Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat yang meliputi daerah Jawa Timur dikenal dengan nama Kodam V/Brawijaya.

Kepustakaan

  • Andjar Any. 1989. Rahasia Ramalan Jayabaya, Ranggawarsita & Sabdopalon. Semarang: Aneka Ilmu
  • Babad Majapahit dan Para Wali (Jilid 3). 1989. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah
  • Babad Tanah Jawi. 2007. (terjemahan). Yogyakarta: Narasi
  • H.J.de Graaf dan T.H. Pigeaud. 2001. Kerajaan Islam Pertama di Jawa. Terj. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti
  • M.C. Ricklefs. 1991. Sejarah Indonesia Modern (terjemahan). Yogyakarta: Gadjah Mada University Press
  • Slamet Muljana. 2005. Runtuhnya Kerajaan Jindu-Jawa dan Timbulnya Negara-Negara Islam di Nusantara (terbitan ulang 1968). Yogyakarta: LKISBabad Tanah Jawi, Mulai dari Nabi Adam Sampai Tahun 1647. (terj.). 2007. Yogyakarta: Narasi
  • Marwati Poesponegoro & Nugroho Notosusanto. 1990. Sejarah Nasional Indonesia Jilid II. Jakarta: Balai Pustaka
  • R.M. Mangkudimedja. 1979. Serat Pararaton Jilid 2. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah
  • Wikipedia

asal usul gajah mada

Gajah Mada (1299-1364) Mahapatih majapahit yang sangat terkenal dengan sumpah palapanya merupakan satu-satunya orang kuat pada jamannya di nusantara. Salah satu keruntuhan kerajaan Majapahitdikatakan karena tidak memiliki orang kuat yang lain yang cakap untuk menggantikan gajah Mada. Panglima Perang yang ditunjuk menjadi Mahapatih kerajaan Majapahit menggantikan Arya Tadah pada masa pemerintahan Ratu Tribhuwana Wijayatunggadewi (1328-1350)
Sebagai mahapatih dia berhasil menumpas pemberontakan di Sadeng dan Keta (1331) dan kemudian berikrar untuk mempersatukan Nusantara dengan sumpahnya yang dikenal sebagai Sumpah Palapa. Serat Pararaton memuat Sumpah Palapa yang diucapkan dihadapan Ratu Tribhuwana Wijayatunggadewi sebagai berikut:
“Lamun huwus kalah nusantara isun amukti palapa, lamun kalah ring gurun, ring seram, tanjungpura, ring haru, pahang, dompo, ring bali, sunda, palembang, tumasik, samana isun amukti palapa”
artinya :
“Apabila sudah kalah Nusantara, saya akan beristirahat, apabila Gurun telah dikalahkan, begitupula Seram, Tanjungpura, Haru, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, pada waktu itu saya akan menikmati istirahat”
Sepeninggalan Gajah Mada Namanya terus di kenang  bukan saja di tanah air akan tetapi sampai di kawasan asia tenggara (yang dulu di sebut Nusantara) bahkan nama Gajah Mada di pakai sebagai nama salah satu Universitas Terkemuka di Indonesia dan juga di pakai sebagai Nama Hotel Berbintang 5.
Sayang sekali asal-usul Mahapatih Gajah Mada yang sangat masyur ini belum jelas diketahui Orang,baik meyangkut Nama orang Tuanya maupun tempat serta tahun kelahirannya.
Muhammad yamin didalam bukunya yang berjudul Gajah Mada, Balai Pustaka,cet ke-6,1960,hal 13 Mengungkapkan tokoh ini sebagai :
“Diantara sungai brantas yang mengalir dengan derasnya menuju kearah selatan dataran Malang dan dikaki pegunungan Kawi-Arjuna yang indah permai,maka disanalah nampaknya seorang-orang indonesia berdarah rakyat dilahirkanpada permulaan abad ke-14. Ahli sejarah tidak dapat menyusur hari lahirnya dengan pasti: ibu bapak dan keluarganya tidak dapat perhatian kenang-kenangan riwayat: Begitu juga nama desa tempat dia dilahirkan dilupakan saja oleh penulis keropak jaman dahulu asal usul gajah mada semua dilupakandengan lalim oleh sejarah”
Jadi jelaslah menurut Muhammad Yamin, asal-usul Gajah Mada masih sangat gelap, walaupun ada dugaan bahwa gajah mada dilahirkan di aliran sungai Brantas yang mengalir keselatan diantara kaki gunung Kawi-Arjuna,diperkirakan sekitar tahun 1300 M. Keinginan untuk mengetahui asal-usul Patih Gajah Mada sebagai Negarawan besar pada Jaman Kerajaan Majapahit, telah lama menarik perhatian ahli sejarah,salah satunya bpk I Gusti Ngurah Ray Mirshaketika mengadakan Klasifikasi Dokumen Lama yang berbentuk Lontar-lontar pada “perpustakaan Lontar Fakultas Sastra, Universitas Udayana” (sekitar tahun 1974. Salah satu lontar yang menarik perhatian diantaranya adalah lontar yang berjudul “Babad Gajah Maddha”. Lontar tersebut memakai kode: Krop.7, Nomer 156, Terdiri dari 17 Lembar lontar berukuran 50×3,5 cm, ditulisi timbal balik, setiap halaman terdiri atas 4 baris, memakai huruf dan bahasa Bali-Tengahan.
Lontar tersebut adalah merupakan Salinan sedangkan yang asli belum dapat dijumpai. Secara garis besar lontar babad Gajah Maddha tersebut berisikam
  1. Asal Usul Gajah Mada
  2. Gri Kresna Kapakisan dalam hubungannya dengan raja-raja Majapahit
  3. Emphu keturunan pada waktu memerintah dibali
Yang menjadi perhatian dari sekian lontar tersebut dan dapat dijadikan penelitian lebih lanjut adalah bagian yanfg menjelaskan tentang Asal-Usul/Kelahiran sang Maha Patih Gajah Mada.

Ringkasan Isi Teks Lontar Babad Gajah Maddha

Tersebutlah Brahmana Suami-Istri di wilatikta, yang bernama Curadharmawysa dan Nariratih, keduanya disucikan (Diabhiseka menjadi pendeta) oleh Mpu Ragarunting di Lemah Surat. Setelah disucikan lalu kedua suami istri tersebut diberi nama Mpu Curadharmayogi dan istrinya bernama Patni Nuriratih. Kedua pendet tersebut melakukan Bharata (disiplin) Kependetaan yaitu :Sewala-brahmacari” artinya setelah menjadi pendeta suami istri tersebut tidak boleh berhubungan sex layaknya suami istri lagi.
Selanjutnya Mpu Curadharmayogi mengambil tempat tinggal (asrama) di Gili Madri terletak di sebelah selatan Lemah Surat, Sedangkan Patni Nariratih bertempat tinggal di rumah asalnya di wilatikta, tetapi senantiasa pulang ke asrama suaminya di gili madri untuk membawa santapan,dan makanan berhubungan jarak kedua tempat tinggal mereka tidak begitu jauh.
Pada suatu hari Patni Nariratih mengantarkan santapan untuk suaminya ke asrama di gili madri, tetapi sayang pada saat hendak menyantap makanan tersebut air minum yang disediakan tersenggol dan tumpah (semua air yang telah dibawa tumpah),sehingga  Mpu Curadharmayogi mencari air minum lebih dahulu yang letaknya agak jauh dari tempat itu arah ke barat. Dalam keadaan Patni Nariratih  seorang diri diceritakan timbulah keinginan dari Sang Hyang Brahma untuk bersenggama dengan Patni Nariratih  . Sebagai tipu muslihat segerah Sang Hyang Brahma berganti rupa (berubah wujud,(“masiluman”)) berwujud seperti Mpu Curadharmayogi sehingga patni Nariratih mengira itu adalah suaminya.
Segera Mpu Curadharmayogi palsu (Mayarupa) merayu Patni Nariratih untuk melakukan senggama, Tetapi keinginan tersebut ditolak oleh Patni Nariratih,oleh karena sebagai pendeta sewala-brahmacari sudah jelas tidak boleh lagi mengadakan hubungan sex,oleh karena itu Mpu Curadharmayogi palsu tersebut memperkosa Patni Nariratih.
Setelah kejadian tersebut maka hilanglah Mpu Curadharmayogi palsu,dan datanglah Mpu Curadharmayogi yang asli (Jati). Patni Nariratih menceritakan peristiwa yang baru saja menimpa dirinya kepada suaminya dan akhirnya mereka berdua menyadari,bahwa akan terdjadi suatu peristiwa yang akan menimpa meraka kelak.kemudian ternyata dari kejadian yang menimpa Patni Nariratih akhirnya mengandung.
Menyadari hal yang demikian tersebut mereka berdua lalu mengambil keputusan untuk meninggalkan asrama itu,mengembara ke hutan-hutan ,jauh dari asramanya tidak menentu tujuannya,hingga kandungan patni Nariratih bertambah besar. Pada waktu mau melahirkan mereka sudah berada didekat gunung Semeru dan dari sana mereka menuju kearah Barat Daya, lalu sampailah disebuah desa yang bernama desa Maddha. Pada waktu itu hari sudah menjelang malam dan Patni Nariratih sudah hendak melahirkan,lalu suaminya mengajak ke sebuah “Balai Agung” yang etrletak pada kahyangan didesa Maddha tersebut.
Bayi yang telah dilahirkan di bale agung itu, segera ditinggalkan oleh mereka berdua menuju ke sebuah gunung. Bayi tersebut dipungut oleh seorang penguasa didesa Maddha,lalu oleh seorang patih terkemuka di wilatikta di bawa ke wilatikta dan diberi nama “Maddha”

Interpretasi (tafsiran) dari Isi

1. Pada halaman 2a Lontar Babad Gajah Maddha (sealanjutnya di singkat dengan B.G.M) dikatakan bahwa oran tua Gajah Mada berasal dari Wilatikta yang disebut juga Majalangu (B.G.M hal.1b) Disebelah selatan “Lemah Surat” terletak “Giri Madri” yang dikatakan berada dekat dengan Wilatikta (B.M.G Hal.6a)pada B.M.G hal.6b dikatakan hampir setiap hari Patni Nariratih pulang pergi dari wilatikta,megantar makanan suaminya di asramanya di gili Madri yang terletak disebelah selatan wilatikta. Hal ini berarti Gili Madri terletak disebelah selatan Lemah Surat dan juga disebelahselatan Wilatikta. Jarak antara Gili Madri dengan Wilatikta dikatakan dekat.Tetapijarak antara Lemah Surat dengan Wilatikta begitu pula arah dimana letak Lemah Surat dari Wilatikta tidak disebutkan dalam B.G.M
2. Pada B.G.M hal. 12a yang menyebutkan tentang kelahiran Gajah Mada, ada kalimat yang berbunyi “On Cri Caka warsa jiwa mrtta yogi swaha” kalimat ini adalah Candrasangkala yang bermaksud kemungkinan sebagi berikut:
  • On Cri Cakawarsa        = Selamatlah Tahun Saka
  • Jiwa                = 1 (satu)
  • mrtta                = 2 (Dua)
  • Yogi                = 2 (Dua)
  • Swaha                = 1 (satu)
jadi artinya : Selamat Tahun Saka 1221 atau tahun (1299 Masehi) seandainya itu  benar maka gajah mada dilahirkan pada tahun 1299 Masehi.
3. Mengenai nama Maddha B.G.M hal.10b – 11a disebutkan sebagai berikut:
  • Karena malu terhadap gurunya yakni : Mpu Ragarunting, begitu juga terhdap orang banyak, maka setelah kandungan Patni Nariratih membesar, lalu disjak ia oleh suaminya meninggalkan asrama pergi mengembara kedalam hutan dan gunung yang sunyi. Akhirnya pada malam hari,waktu bayi hendak lahir,mereka berdua menuju kesebuah desa yang bernama Maddha terletak di dekat kaki gunung semeru. didesa itulah sang Bayi dilahirkan disebuah “Bale-Agung” yang ada di Kahyangan (Temple) desa tersebut. Bayi tersebut dipungut oleh seorang penguasa desa Maddha,kemudian dibawa ke Wilatikta oleh seorang patihdan kemudian diberi nama Maddha jadi jika demikian halnya nama Maddha berasal dari nama desa.
  • Nama Gajah oleh B.G.M sama sekali tidak disebutkan.kemungkinan besar nama gajah adalah nama  kemungkinan nama tambahan atau nama julukan atau bisa juga nama Jabatan (Abhiseka) bagi sebutan orang Kuat (?)
  • dengan demikian Gajah Mada berarti Orang kuat yang berasal dari Maddha.
4. Mengenai nama orang Tua Gajah Mada, ayahnya bernama Curadharmawyasa dan ibunya bernama Nariratih (B.G.M. hal 2a) Setelah mereka disucikan (Abhiseka menjadi pendeta) oleh Mpu Ragarunting di Lemah Surat,nama mereka berubah menjadi Curadharmayogi dan Patni Nariratih (B.G.M hal 3b) meraka berdua adalah brahmana (B.G.M hal. 2a)
Adapun didalam B.G.M hal. 9b, yang menyebutkan bahwa Patni Nariratih bersenggama dengan Dewa Brahma yang berganti rupa seperti suaminya sehingga Gajah Mada seolah-olah dilahirkan atas hasil senggama antara Patni Nariratih dengan Dewa Brahma, dapat kita tafsirkan sebagai berikut:
Pengungkapan Mitos demikian itu sudah tentu sukar diterima oleh akal mengingat motif yang demikian itu sudah banyak terdapat p[ada penulisan-penulisan babad, maka perlulah dicari Latar belakang dari hal-hal yang dimythoskan itu Perkiraan yang dapat kami tangkap adalah:
  • Mpu Curadharmayogi dan istrinya Patni Nariratih adalah melakukan brata “Sewala Brahmacari” yang berarti sejak mereka menjadi pendeta mereka tidak diperbolehkan untuk berhubungan sex atau senggama oleh karena itu mereka berpisah tempat Sang suami ber asrama di Gili Madri sedangkan Sabng istri bertempat tinggal di Wilatikta tetapi kedua suami istri ini masih saling bertemu karena sang istri acapkali membawakan makanan untuk sang suami.
  • Pada suatu ketika yaitu pada hari Coma, Umanis, Tolu, Cacil ka daca (senin, Legi, Tolu ,bulan april) Patni Nariratih membawakan suaminya santapan. Pada waktu hendak makan,air minum tiba-tiba tumpah.Dengan tidak sadar keluarlah kata-kata dari Patni Nariratih : “ih ah palit dewane plet”yang maksudnya kemaluan suaminya kelihatan (B.G.M ha. 7a). Dalam B.G.M hal.7b dikatakan bahwa kata-kata tersebut didengar oleh Dewa Brahma. disinilah menurut Interpretasi kami bahwa yang mendengar hal tersebut tidak lain adalah suaminya sendiri, sehingga timbuh hasrat birahi ingin bersenggama dengan suaminya,Akhirnya senggama tersebut terjadi antara Patni Nariratih dengan suaminya sendiri. Mengapa demikian, karena menurut interpretasi kami, Brahma adalah sebagai dewa pencipta/penumbuh (konsep trimurti) dan ini sering digunakan sebagai mythologi sebagai sumber kelahiran seseorang yang ke-namaan atau termasyur. Jadi logislah disin untuk menyembunyikan perbuatan Mpu Curadharmayogi maka dipakailah Dewa Brahma sebagai gantinya. Mengapa dikatakan senggama itu terjadi dengan Dewa Brahma, Kiranya ini untuk menyembunyikan perbuatan Mpu Curadharmayogi sebagai seorang”Sewala-brahmacari” itulah sebabnya setelah Patni Nariratih hamil mereka segera pergi dari asrama unuk menyembunyikan diri.
  • Mengenai Lahirnya Sang bayi pada balai agung di sebuah kahyangan di desa maddha. ini kira-kiranya memang diusahakan oleh Mpu Curadharmayogi dan Patni Nariratih menurut penafsiran kami: Balai Agung adalah merupakan sebuah balai yang patut ada di dalam sebuah “Kahyangan Desa”(Pura desa) yang berfungsi sebagai tempat membersihkan diri dari noda-noda spritual.
Hal yang demikian ini dapat dibandingkan dengan keadaan di Bali sampai sekarang, Bahwa Bale-Agung terletak didalam Pura Desa yaitu salah satu Kahyangan Tiga yang ada pada tiap-tiap desa. Pura Desa ini adalah Sthana Dewa Brahma dalam fungsi sebagi pencipta. Jadi logislah orang tua Gajah Mada mengusahakan Balai Agung sebagai tempat untuk melahirkan bayi dengan maksud :
  • Proses kelahiran berjalan lancar bayi terhindar dari noda-noda spritual
  • Supaya bayi tersebut dianggap dilahirkan dari sumber pebcipta
  • Supaya ada orang yang memungut dan memeliharanya.
Dari berbagai Sumber.

primbon karakter sex wanita

Primbon Jawa sebagai produk kuno masih memliki penggemar dan bahkan sebagian orang jawa masih menggunakan primbon untuk mengartikan mimpi bahkan kejadian yang akan datang. Dalam primbon Jawa banyak sekali dimuat berbagai aturan ataupun petunjuk kehidupan dan salah satunya adalah gairah sex wanita. Menurut primbon jawa dapat dilihat dari ciri-ciri fisiknya dan berikut sebagian ciri-ciri fisik seorang wanita dan gairah sex-nya.

Kunci Emas
Ciri fisik : Tubuhnya panjang, tapi kakinya agak pendek tak proposional. Rambutnya tumbuh subur tebal, demikian pula bulu rambutnya baik di tangan atau kadang kaki, dan dibagian "V". Muka dan payudaranya kecil.

Wanita ini termasuk baik dan setia. Meskipun gairah seksualnya tidak menonjol, tapi ia mampu mengimbangi pasangannya. Kalau pria pasangannya memperlakukannya dengan penuh kasih, ia bisa jadi wanita yang menggairahkan. Tapi, ia cenderung tertarik pada wanita sejenis.

Bunga Restu
Ciri fisik :Tubuh besar, kukuh dan cenderung pendek. Muka dan dahinya kecil, mulutnya agak tebal, rambutnya tebal.

Ia termasuk wanita pendiam, demikian juga di tempat tidur. Ia pasif, tak peduli pada pasangannya. Pria pasangannya perlu kesabaran dan memanasinya, karena pada dasarnya ia bisa menjadi pasangan yang menyenangkan. Apalagi, menurut orang Jawa, tipe wanita ini mendatangkan rejeki.

Bintang berkerlip
Ciri fisik :Bertubuh tinggi semampai, berpinggang kecil dengan pinggul besar. Rambutnya lurus sedang, mata sayup-sayup tertutup, hidung besar.

Dari penampilan fisik, wanita ini punya sex appeal yang tinggi. Pria membayangkan ia punya gairah seks yang besar, padahal biasa-biasa saja. Ia bukan penikmat seks, tapi lebih memikirkan urusan rumah tangga dan masa depan anaknya. Ia tipe istri yang baik, setia dan tabah dalam menghadapi persoalan.

Bintang Siaga
Ciri fisik ; Tubuh sedang, tidak tinggi, tidak pendek cenderung kecil. Wajahnya bulat, bermata sayup seperti mengantuk. Mulut lebar, bibir atas lebih kecil dari bibir bawah, telinga melebar keluar.

Bukan hanya gairahnya yang kurang, tapi juga dalam hal olah asmara. Ia terlalu monoton, tidak ada keinginan untuk meningkatkan kemahiran dan belajar bagaimana menikmati seks. Seks baginya seperti kewajiban saja, sehingga pasangannya cenderung kecewa.

Seroja Bergoyang
Ciri fisik :Tubuhnya bagus, meskipun berdada kecil, tapi padat berisi. Beralis tebal, mulut kecil dengan bibir sensual. Pinggulnya tampak seksi berisi.

Secara fisik, ia sangat menarik. Tetapi secara personal, ia bukan wanita yang ceria, cenderung pemuram dan pesimistis. Ia lebih sering cemberut dibanding tertawa dan tersenyum. Pantas kalau ia tampak lebih tua dibanding umurnya. Dalam hal asmara, ia tak semenarik penampilannya. Tapi bagi pria yang egois dan butuh kecepatan, wanita ini bisa saja jadi pasangan yang cocok. Apalagi, Si Seroja bergoyang ini bukan tipe penuntut.

Bunga Indah
Ciri fisik:Tubuh tinggi dengan payudara besar menelungkup ke dalam sehingga tampak indah. Kakinya juga panjang, kalau duduk sering ditumpangkan satu dengan yang lain, dan kalau berjalan lenggang lenggok. Kulitnya putih, berwajah bulat, matanya suka mengerdip indah.

Dari segi fisik, wanita ini tampak ideal. Dan ia memang tipe wanita yang setia, berbakti pada pria pasangannya, bahkan sebagian rela tak peduli pasangannya punya WIL. Memang meskipun fisik dan perilakunya mengundang hasrat besar pria, tapi tidak demikian reaksi seksualnya. Ia tipe wanita dingin, yang sekadarnya saja dalam olah asmara. Ia sudah merasa cukup dan damai kalau dicukupi kebutuhan materialnya.

Pikat Mutiara
Ciri fisik: Tinggi dengan punggung agak membungkuk, tapi berpayudara kecil. Leher panjang, dahi lebar, mulut lebar dan dari kejauhan tampak memikat.

Sebenarnya ia tipe wanita yang cerdas, kata-katanya terpilih dan penuh perhatian. Ia tipe teman yang baik. Ketidaksukaannya berterus terang, membuat olah asmaranya dingin kalau pria pasangannya tak menangkap keinginannya. Wanita mutiara ini lebih suka memberikan bahasa isyarat, sehingga pihak pria harus peka dan tanggap. Ia sebenarnya pencinta yang baik, meskipun gairahnya kecil saja. Tapi buka berarti tak ada kebahagiaan, lho.

Sri Tumurun
Ciri fisik; Tubuh tinggi, kaki panjang, dada tipis. Mukanya bulat, kaki panjang, dada tipis. Mukanya bulat, mulut lebar, bibir tebal, rambut lemas, bertumit besar.

Meskipun tinggi semampai, sex appeal-nya rendah. Ia lebih menarik menjadi teman karena ia ramah, sopan dan pandai bertutur kata. Sebenarnya, ia tipe istri yang baik karena jenis subur dan membawa berkah. Dalam kultur Jawa, ia adalah titisan Sri, Dewa Padi. Tapi dalam olah asmara, wanita Sri ini cenderung dingin, bahkan frigid. Pria pasangannya sering dibuatnya jengkel dan kesal karena itu. Dan Sri tidak begitu peduli.